Back to Gallery
Realistic

Pertemuan di Panti Tuna Netra

Farid AdiyantoFarid Adiyanto1 page · 4 panels4/28/2026

Characters (3)

Ditia — character reference for Pertemuan di Panti Tuna Netra
Ditia
Seorang wanita muda Asia Timur berusia pertengahan 20-an, berambut hitam lurus sebahu, bermata cokelat, berkulit cerah, bertubuh langsing, tinggi rata-rata. Ia mengenakan masker kain biru muda sederhana, kemeja putih lengan panjang pas badan, celana jins biru gelap, dan tas selempang abu-abu di tubuhnya.
Farid — character reference for Pertemuan di Panti Tuna Netra
Farid
Seorang pria muda Asia Timur berusia pertengahan 20-an, berambut hitam keriting menutupi dahinya, bermata cokelat lembut (buta), berkulit cerah, bertubuh ramping, tinggi rata-rata. Ia mengenakan jubah biru cerah lengan panjang dan memegang gitar akustik.
Warga Panti — character reference for Pertemuan di Panti Tuna Netra
Warga Panti
Berbagai warga panti lanjut usia dan muda Asia Timur, beberapa dengan tongkat jalan atau kursi roda, mengenakan pakaian sederhana dan nyaman, tersenyum.
1
Pertemuan di Panti Tuna Netra — page 1 panel 1: Ditia melangkah melewati gerbang tinggi Panti Tuna Netra Bhakti Cahaya. Jantungnya berdebar kencang, memeluk tas selempang, menahan gemetar. Aroma kue tradisional menguar dari dapur, sementara suara tawa warga panti mengisi udara pagi. Ini adalah tempat di mana sisa-sisa penglihatan pertama yang kini ia miliki bersemai di matanya, sebuah pertemuan takdir.
Pagi itu, Ditia kembali ke tempat takdir mempertemukannya dengan masa lalu dan masa depan.
Ditia
Ini dia… tempat di mana mataku melihat dunia lagi.
2
Pertemuan di Panti Tuna Netra — page 1 panel 2: Ditia melihat Farid di ujung halaman, duduk tegak memainkan gitar akustik. Alunan melodi lama yang familiar menggetarkan hatinya, memicu air mata pertama jatuh membasahi pipi di balik maskernya. Rindu dan penyesalan membanjiri dirinya.
Melodi itu… suara yang tak pernah hilang dari ingatannya.
Ditia
Farid… dia masih di sini, dengan musiknya.
3
Pertemuan di Panti Tuna Netra — page 1 panel 3: Ditia akhirnya mendekat, suaranya bergetar memanggil nama Farid. Ia meminta maaf atas penolakannya di masa lalu dan rasa bersalahnya atas pengorbanan Farid. Farid menggenggam tangannya, dengan lembut mengatakan bahwa ia rela semua itu karena cintanya tak pernah berubah.
Ditia:Farid… maafkan aku. Aku menolakmu dulu.
Farid:Jangan minta maaf untuk sesuatu yang membuatku bahagia.
4
Pertemuan di Panti Tuna Netra — page 1 panel 4: Setelah pelukan erat, Ditia dan Farid duduk berdampingan, gitar Farid tergeletak di pangkuannya. Mereka berbagi cerita, dan Farid memainkan melodi baru—campuran kenangan dan janji masa depan. Mata Ditia memandang dunia bersama Farid, dan mata Farid tetap memandangi Ditia dengan arah yang sama: masa depan yang terang benderang oleh kasih yang tulus dan abadi.
Farid:Dengarlah lagu untuk kita.
Di bawah langit cerah, dua hati yang pernah tercerai kini menyatu kembali.