Back to Gallery
Realistic

Pertemuan di Panti Tuna Netra

Farid Adiyanto avatarFarid Adiyanto1 page · 4 panels4/28/2026

Story Prompt

Written by Farid Adiyanto

Bab 16: Pertemuan di Panti Tuna Netra Pagi itu, mentari menyelinap lewat celah atap genteng panti tuna netra, menari di atas ubin keramik yang sudah terlapisi kerikil halus. Suara riuh canda dan tawa warga panti menyerupai simfoni hangat yang memecah kesunyian subuh. Aroma bakaran kue tradisional—klepon, lapis, dan kue cucur—menguar dari dapur terbuka di ujung koridor, menggoda pencernaan siapa pun yang melewati. Di sudut halaman, denting gitar terdengar samar, bergaung di sela nafas angin yang melintas di bawah pepohonan keramat. Setiap nada ibarat sapaan rindu, seolah tahu persis siapa pendengarnya. Ditia memasuki gerbang tinggi panti tuna netra dengan langkah tercengah. Jantungnya berdegup lebih cepat daripada biasa. Ia memeluk tas selempang di bahu, menahan gemetar. Inilah tempat Farid menjalani masa pemulihan pasca¬-operasi donor retina—tempat di mana sisa-sisa penglihatan pertama yang kini ia miliki bersemai di mata Ditia. Seolah ada magnet tak terlihat yang menuntunnya melewati lorong marmer putih sampai ke halaman utama. Tali sepatu Ditia menyentuh permukaan ubin yang bersih, melepaskan jejak kaki di antara deretan kursi kayu. Di samping kursi berselimut kain batik, tongkat putih lurus tergeletak. Itu tongkat yang dulu sering diayun-ayun Farid ketika ia berjalan sendiri, menapak dunia tanpa penglihatan. Namun sekarang, cuma tinggal kenangan di sekelilingnya: tulisan “Panti Tuna Netra Bhakti Cahaya” terpampang di dinding bercorak mozaik. Di ujung lapangan, kursi kayu panjang menampakkan sosok lelaki berjubah biru terang—Farid. Ia duduk tegap, punggung lurus, jari-jari lentik meremas gitar akustik. Badannya sedikit membungkuk, membentuk busur busur musik yang ia goreskan pada senar. Ditia menahan langkah, hatinya meluap bahagia saat mendengar alunan lagu lama yang pernah ia rekam dalam ingatan: intro tenang dengan nada melankolis, beralih jadi nada ceria yang menuntun melodi. Air mata pertama jatuh tanpa aba-aba, melintasi pipi Ditia yang tertutup masker kain. Rindunya terkendali hanya dengan mendengar denting senar, menatap siluet Farid yang sepintas membeku di antara bayangan kaktus mini dan pot bunga sedap malam. Satu dua tangis teredam di kerongkongan, sementara ia berusaha menenangkan diri—namun nada demi nada, kenangan demi kenangan, merangkai kepingan hati yang dulu tercerai berai. Ditia berjalan pelan, hampir merangkak, menyesuaikan jarak suaranya dengan ampuh nada gitar Farid. Aroma kue yang terbakar di dapur perlahan memudar di hadapannya, berganti aroma keringat manis yang menandai kegugupan. Perasaan antara bahagia, takut, dan bersalah berbaur tak tertahankan. Ia teringat betapa dulu ia pernah menolak Farid dengan dingin, mematahkan semangat lelaki yang setia merangkai puisi cinta setiap malam di pojok kafe kampus. Kini, di sinilah titik pertemuan mereka: di antara denting gitar dan aroma hangat kue pagi, di bawah cahaya yang membelai aspal halaman. Ditia menelan ludah, menegapkan hati, lalu mengangkat tangan kanan, mencoba menyapa—namun suara pikirannya terhalang ribuan pertanyaan. Ia memejamkan mata sebentar, menghafal jumlah langkah sampai ke kursi Farid. Ketika jarak tersisa tiga meter, Ditia menoleh ke tongkat putih di samping kursi Farid. Tongkat yang dulu setia menuntunnya kini diam, menunggu siapa yang akan memegangnya berikutnya. Tangannya menegang, seolah hendak menyentuh kenangan itu. Namun ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan pesan yang lebih murni mengalir: “Aku di sini. Aku datang untukmu.” Farid menghentikan petikan gitarnya. Daun jari terakhir tergeser ke senar bas, menciptakan jeda sempurna. Kepala lelaki itu terangkat, rambut ikalnya menutupi dahi, menyingkap senyum lembut di bibirnya. Meski matanya buta, suguhan wajahnya begitu hidup: alis sedikit terangkat, mengguratkan tanda heran dan harap. Ditia bisa merasakan tatapannya, meski ia tidak memandang langsung. Diam menelan sejenak. Ia mendekat, hingga hanya Tuhan, denting gitar terakhir, dan degup jantung mereka yang terdengar nyata. Ditia menegakkan badan, suara tertahan sebelum terucap. “Farid…” katanya lirih. Farid memiringkan kepala, seolah merancang tanggapan sempurna. Udara pagi seakan menahan napas. “Ditia,” ujarnya pelan, senyum tipis mengembang. Suara itu familiar, hangat, seolah memeluk udara di sekitarnya. “Kau datang.” Air mata kembali mengalir, kini lebih deras. Ditia tak kuasa menahan: ia menunduk, lengan gemetar, lalu menyeka air matanya dengan punggung tangan. “Aku… maafkan aku. Aku menolakmu dulu,” suaranya gemetar. “Aku tak pantas mendapat hadiah terindah ini.” Ia menunjuk ke arah matanya, dua bola mata yang kini menatap semesta berkat pengorbanan Farid. Farid terdiam, memeluk gitar di pangkuannya. Dengan lembut, ia menggapai lengan Ditia. “Jangan minta maaf untuk sesuatu yang membuatku bahagia,” katanya, bisiknya menembus keheningan. “Aku rela semua itu karena aku mencintaimu. Bahkan saat kau menolak cinta ini, hatiku tak pernah berubah.” Ditia menunduk, bibirnya bergetar. Ia menahan isak, namun su

Show more

Characters (3)

AI-generated with Comicory

The Finished Comic

AI-generated with Comicory
1
Pertemuan di Panti Tuna Netra — page 1 panel 1: Ditia melangkah melewati gerbang tinggi Panti Tuna Netra Bhakti Cahaya. Jantungnya berdebar kencang, memeluk tas selempang, menahan gemetar. Aroma kue tradisional menguar dari dapur, sementara suara tawa warga panti mengisi udara pagi. Ini adalah tempat di mana sisa-sisa penglihatan pertama yang kini ia miliki bersemai di matanya, sebuah pertemuan takdir.
Pagi itu, Ditia kembali ke tempat takdir mempertemukannya dengan masa lalu dan masa depan.
Ditia
Ini dia… tempat di mana mataku melihat dunia lagi.
2
Pertemuan di Panti Tuna Netra — page 1 panel 2: Ditia melihat Farid di ujung halaman, duduk tegak memainkan gitar akustik. Alunan melodi lama yang familiar menggetarkan hatinya, memicu air mata pertama jatuh membasahi pipi di balik maskernya. Rindu dan penyesalan membanjiri dirinya.
Melodi itu… suara yang tak pernah hilang dari ingatannya.
Ditia
Farid… dia masih di sini, dengan musiknya.
3
Pertemuan di Panti Tuna Netra — page 1 panel 3: Ditia akhirnya mendekat, suaranya bergetar memanggil nama Farid. Ia meminta maaf atas penolakannya di masa lalu dan rasa bersalahnya atas pengorbanan Farid. Farid menggenggam tangannya, dengan lembut mengatakan bahwa ia rela semua itu karena cintanya tak pernah berubah.
Ditia:Farid… maafkan aku. Aku menolakmu dulu.
Farid:Jangan minta maaf untuk sesuatu yang membuatku bahagia.
4
Pertemuan di Panti Tuna Netra — page 1 panel 4: Setelah pelukan erat, Ditia dan Farid duduk berdampingan, gitar Farid tergeletak di pangkuannya. Mereka berbagi cerita, dan Farid memainkan melodi baru—campuran kenangan dan janji masa depan. Mata Ditia memandang dunia bersama Farid, dan mata Farid tetap memandangi Ditia dengan arah yang sama: masa depan yang terang benderang oleh kasih yang tulus dan abadi.
Farid:Dengarlah lagu untuk kita.
Di bawah langit cerah, dua hati yang pernah tercerai kini menyatu kembali.